Rabu, 05 Maret 2008

Penampilan Atau Hati?

Tadi siang (05/03/08) saya berdiri di dekat kasir disebuah supermarket di kota kami. Saya berdiri di dekat kasir karena sedang menunggu teman yang akan membayar barang belanjaan saya karena saya lagi malas untuk antre terlalu lama, sementara barang yang saya beli hanya satu item saja. Saya berikan posisi antrean kepada teman di belakang saya sambil titip barang saya dan keluar dari antrean tersebut.

Hal lain yang membuat saya malas antre adalah karena di depan saya masih ada beberapa orang lagi yang sedang antre untuk membayar belanjaan mereka di kasir. Diantara yang antre ada sepasang bapak dan ibu yang kebetulan adalah masyarakat lokal. Mereka belanja cukup banyak, diantaranya ayam beku dan beberapa puluh kilo wortel. Kemungkinan barang-barang tersebut akan digunakan untuk acara pesta.

Pada saat giliran masyarakat lokal tersebut berada di kasir mereka mulai mengeluarkan belanjaannya dan dihitung oleh kasir. Setelah belanjaan mereka menembus angka 250 ribu lebih, supervisor dari kasir yang sedang memperhatikan transaksi tersebut lantas meminta kasir untuk menghentikan perhitungan (swep) belanjaan mereka dan bertanya kepada pasangan tersebut untuk memastikan apakah mereka sanggup membayar belanjaan mereka yang sudah lewat 250 ribu sedangkan masih ada barang yang belum dihitung oleh kasir. Wajah si bapak kelihatan agak ragu, namun kemudian dia mengangguk tanda menyanggupi pembayaran tersebut.

Setelah selesai kasir menghitung harga barang-barang tersebut, nampak tertera di mesin pembayar jumlah belanjaan mereka sebesar 357 ribu rupiah.

Bapak dan ibu itu kemudian mengeluarkan dompet mereka masing-masing dan mulai mencabut beberapa lembar uang 50 ribuan dan beberapa lembar 20 ribuan. Dan akhirnya belanjaan tersebut semuanya lunas dibayar cash.

Dulu saya punya seorang pimpinan (manager) yang begitu sederhana. Cara berpakaian dan cara mendekati bawahannya dan semua sifat kesederhanaannya membuat banyak orang yang belum mengenalnya menyangka bahwa ia adalah seorang karyawan biasa pada perusahan dimana kami bekerja. Bahkan kadang-kadang para supervisornya lebih kelihatan seperti manager daripada dirinya sendiri.

Dalam satu pembicaraan dengan teman kerja, saya mengatakan bahwa saya begitu kagum dengan kesederhanaan manager kami, dan mengakui bahwa manager kami tersebut menjadi contoh nyata dari teladan seorang pimpinan sejati.

Pendapat saya tersebut ditentang oleh teman kerja tersebut, dan mengatakan bahwa seorang manager seharusnya bisa punya wibawa juga, agar tidak dianggap ‘sepele’ oleh karyawan lain. Ibarat tentara atau polisi yang nampak wibawa bila memakai pakaian dinas dan postur tubuh yang tegap walaupun pangkatnya masih jauh dari kepala alias masih prajurit. Pokoknya seorang manager harus berpenampilan yang sesuai agar punya wibawa.

Dua kasus ini adalah pelajaran hidup bagi saya. Kita kadang-kadang melihat seseorang dari penampilan mereka. Baju mereka apa yang mereka pakai, modelnya yang terbaru atau kuno. Demikian juga dengan sepatu yang mereka kenakan. Punya merek atau hanya buatan lokal?

Kita cepat berprasangka terhadap seseorang hanya karena penampilan mereka. Hal seperti ini dulu pernah terjadi pada saat Tuhan meminta Samuel untuk menemui anak-anak Isai yang akan dipilih Tuhan untuk menjadi raja Israel menggantikan Saul. Samuel bergitu terpikat dengan saudara-saudara Daud yang tinggi besar dan cakap (ganteng) sehingga terburu-buru mengambil kesimpulan dalam hatinya bahwa merekalah yang akan ditunjuk Tuhan untuk menggantikan Saul. Akhirnya kita semua tahu, bahwa tidak satupun dari saudara-saudara Daud yang dipilih Tuhan, karena Tuhan melihat hati, bukan penampilan.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

BIAR KALAH MAKANG ASAL JANG KALA PENAMPILAN, OK!